Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

The New Culinary King

Indeks Artikel
The New Culinary King
Page 2
Page 3
Semua Halaman

Penguasa kuliner baru telah lahir. "Red Guide" 2010 yang diterbitkan organisasi Michelin menempatkan Tokyo sebagai pusat gastronomi dunia. Ibukota Jepang ini mengoleksi bintang Michelin terbanyak (261), melebihi gabungan bintang Paris dan New York, serta memiliki restoran berbintang tiga terbanyak (11) sejagat. Ofelia De Pablo dan Javier Zuirta mengunjungi restoran-restoran terbaik di Tokyo guna mengungkapkan rahasia kehebatan para koki mereka. Inilah kisah kesuksesan sushi menumbangkan foie.

 

Kami terjebak dalam suasana kaos di bawah tanah Tokyo. Noriko, pemandu kami, menggenggam tangan saya, lalu menarik saya ke arah Stasiun Shinjuku sembari berteriak lantang: "Lari!" Kami pun memacu langkah, menembus kerumunan guna menjangkau kereta yang sudah siap berangkat. Tapi usaha ini sia-sia. Kami terlambat, tipe kesalahan yang sulit dimaafkan di Jepang. Padahal kami memiliki janji bertemu Shuzo Kishida, koki termuda yang menyabet tiga bintang Michelin.

 

Tepat pukul 11:00, dengan tubuh letih, kami sampai di sudut jalan Shirokane. Di kawasan flamboyan inilah Kishida mendirikan restorannya, Quintessence. Kami pun menemuinya, saling mengucap salam, kemudian memberi hormat ala Jepang dengan cara membungkuk. Lalu membungkuk lagi. Lalu membungkuk sekali lagi. Tadinya saya cemas ia akan mengambek karena kami telat, tapi ternyata tidak. Wawancara pun dimulai.

Kishida membuka rahasia dapurnya. Ia menuturkan sejumlah alasan yang membuat menu-menunya sukses mendulang kekaguman dunia: perhatian dan cinta, ditambah dedikasi dan teknik memasak kreatif yang diasah sejak ia bekerja di restoran milik orangtuanya dan restoran Astrance di Paris. Ia berhenti berbicara, selanjutnya beranjak ke dapur guna menyiapkan menu daging panggang andalannya. Butuh tiga jam untuk memasaknya, tapi rasa dagingnya membuat saya mengerti mengapa Michelin memberinya bintang.

Rasa cinta terhadap makanan diekspresikan secara maksimum di Jepang. Kita bisa menemukan geng pencinta tofu, tempura, atau sushi yang gemar bertukar resep dan rutin berke-liling kota guna mencoba restoran atau menu baru. Ada juga klub pecandu cokelat yang rajin berkumpul di kuil-kuil suci semacam Noka Chocolate, restoran yang memajang biji-biji kakao di etalase layaknya perhiasan.

Tak jauh dari tempat ini, tepatnya di alun-alun gedung baru Tokyo Midtown, kelompok maniak kue berkerumun guna menik-mati kreasi sang master pastry Yoroizuka. Mereka rela mengantre selama dua jam demi mencicipi aneka kue manis ciptaannya. Kami melihat sejumlah selebriti, pengusaha, dan seniman bohemian berbaris di depan pintu restoran. Yoroizuka hanya menyajikan makanan dalam 20 kloter; ia tak mau berkompromi pada kualitas demi mengejar uang.

Gairah yang menggebu pada penganan manis juga terli-hat di Gucci Café dan Bar Chocolat yang dikelola Pierre Hermé. Sedangkan di Mikimoto Room yang terletak di Ginza, pengunjung bisa menikmati dessert yang terbuat dari mutiara yang ditaburi cokelat dan buah pasion, serta makanan penutup terpopuler di Jepang, Mont Blanc (campuran krim chestnut, sponge cake, dan meringue).

Dari sekian banyak grup penggila makanan, dua yang tak boleh dilupakan adalah para pencinta sushi, yakni orang-orang yang tahu persis bagaimana mengombinasikan nasi panas dengan bermacam jenis ikan, serta komunitas penggemar buah, kaum

TENTANG MICHELIN
"Michelin adalah produsen ban asal Prancis. Ide untuk membuat "Michelin Guide" (lebih dikenal dengan nama "Red Guide") tercetus pada 1900-an. Waktu itu, André Michelin ingin menyedia-kan panduan perjalanan bagi pengendara mobil di Prancis. "Red Guide" kini terbit tiap tahun dan mencakup beberapa kota di Eropa, Amerika, dan Asia. Atribut satu bintang berarti restoran sangat bagus di kategorinya; dua bintang berarti restoran menyu-guhkan masakan yang sempurna, layak dikunjungi lagi, memiliki spesialisasi menu dan wine kelas satu; tiga bintang berarti masakannya eksepsional, layak dikunjungi pada momen-momen spesial, mengoleksi wine vintage, dan memberi pelayanan personal dengan harga yang sepadan."

royal yang rela membayar $65 demi sebuah apel Jepang yang dijual di gerai eksklusif semacam Atelier du Soleil.
Di megapolitan yang ditumbuhi pencakar langit ini, sepertinya tak seorang pun menjalankan program diet. Rasa cinta pada makanan bahkan terasa hingga ke gang kecil semacam Omoide Yokocho, di dekat Shinjuku, yang pernah menjadi lokasi syuting film "Blade Runner". Di sini, kami menyantap yakitori lezat di izakaya (warung tradisional).

 



 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner