Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

Nias As You Know It

Ya’ahowu, selamat datang di Tano Niha! Di Bandara Binaka, saat menanti barang-barang meluncur dari bagasi pesawat, sebuah foto hitam-putih yang terpajang di dinding mencuri perhatian saya. Di kertas ukuran 10R terpampang dua orang wanita mengenakan anting besar dan penutup kepala berbahan kayu. Keterangan fotonya menyebutkan: Nias, 1890. Modigliani.

Nias tahun 1890? Waku itu sudah ada fotografer yang wara-wiri di pulau terpencil ini. Sulit dipercaya. Peralatan fotografi zaman baheula dengan film yang masih terbuat dari pelat tentunya tak mudah dibawa. Satu lembar film, satu pelat besar. Bukan satu roll. Kameranya yang sangat besar harus diangkut menggunakan kendaraan yang entah apa jenisnya (tentu saat itu tidak ada mobil), melalui jalanan yang pastinya belum diaspal.

Di sebelah foto itu terpajang foto tua lainnya. Kali ini obyeknya adalah tarian perang. Tampak puluhan pria bertelan-jang dada sembari membawa pedang, tombak, dan tameng dengan mimik galak dan ekspresi siap tempur. Di belakang mereka berbaris rumah tradisional khas Nias yang terbuat dari kayu. Yang tak kalah menarik adalah seragam yang mereka kenakan: pakaian berbahan kayu dengan ujung-ujung meruncing, mirip kostum makhluk luar angkasa di film-film fiksi. Foto uzur hitam-putih ini berlabel 1930-an.

Meski masih dikategorikan destinasi terpencil bagi sebagian orang Indonesia, termasuk saya, pulau berjuluk Tano Niha atau Tanah Manusia ini ternyata sudah menjadi jajahan para penjelajah internasional jauh sebelum kita lahir. Banyak catatan mengonfirmasi fakta itu. Di 1920-an misalnya, Claire Holt pernah membuat film dokumenter tentang tari-tarian tradisional Nias. Pria asal Belanda bernama Edwin Loeb juga sempat bertandang di 1935 dan membuat laporan perjalanan yang, terlepas dari akurasinya, sangat menyeramkan. Ia menceritakan perburuan kepala manusia dan tradisi pengorbanan manusia yang dilakoni warga pulau. Dan Modigliani, nama yang tertera di keterangan foto di bandara, adalah seorang eksplorer dan antropolog terpandang asal Italia.

Budaya adalah magnet utama Nias. Pulau ini terletak di Samudra India, terisolasi sejauh 125 kilometer dari Sumatra. Di pulau sepanjang 100 kilometer ini, jangankan kontak dengan budaya asing, hubungan antarkampung saja terbilang minim. Penduduk Tano Niha yang merupakan percampuran Proto-Melayu dan Deutero-Malay mengembangkan kebudayaan yang distingtif selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Salah satu yang mencolok adalah budaya batu besar (megalitikum).

“The living megalithic culture”, demikian Nias sering disebut. Salah satu produknya yang paling terkenal adalah Fahombe, tradisi lompat batu yang pernah diabadikan pada uang seribu rupiah keluaran 1992. Masyarakatnya belum meninggalkan kebudayaan batu besar. Peninggalan-peninggalan seperti altar batu, rumah adat, furnitur, dan patung batu tetap terawat dan masih bisa disaksikan.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner