Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

The Lost Tribe

Sungai Tarim membelah padang pasir ganas Taklimakan, menghidupi tiap nyawa dan membentuk oasis di tengah gurun yang seolah tak berbatas. Di kedua sisinya tumbuh hutan Euphrates poplar terluas di dunia yang membentang puluhan ribu hektare. Di tempat ekstrem ini, Wang Yuanchang menemui warga Suku Luobu dan memotret tradisi ribuan tahun yang masih mereka praktikkan di tengah Cina yang semakin modern.

lkisah, nenek moyang Suku Luobu menggunakan Euphrates poplar sebagai bahan pembuat rumah—ranting dan daunnya ditumpuk sebagai atap, batang dan dahannya dijadikan kerangka rumah, kulit dan seratnya dirajut di sisi interior, lalu semuanya dilem menggunakan lumpur tebal. Meski tak mewah, konstruksi berbahan alam ini mampu bertahan hingga puluhan generasi.

Penggunaan Euphrates poplar tak berhenti pada rumah. Para leluhur Luobu juga memanfaatkan kayu pohon itu untuk membuat kapen (perahu). Menjala dan menombak ikan adalah sandaran hidup mereka. Kapen juga berfungsi layaknya peti mati untuk menampung jenazah sebelum dikuburkan di dalam tanah.

Banyak dokumentasi menyebutkan Suku Luobu hidup terisolasi di tengah belantara Euphrates poplar di Yuli County, bagian dari Xinjiang Uyghur Autonomous Region, kantong komunitas Islam di Cina. Turun-temurun mereka menetap di tempat itu, menantang kekeringan ekstrim, badai gurun, terik mentari, dan udara beku di malam hari.

Lalu, di awal abad ke-20, sebuah berita menggegerkan beredar di Cina: seorang penjelajah menemukan Suku Luobu yang sebelumnya digosipkan telah punah. Kabar tersebut sontak menjadi tajuk media. Kisah-kisah seputar komunitas legendaris Luobu pun mulai marak dibahas di mana-mana. Namun tak lama kemudian kehebohan reda dan suku terasing itu kembali tenggelam dalam waktu di kedalaman hutan.
Setelah milenium berganti dan Cina membuka pintunya pada dunia, saya berniat mengunjungi Suku Luobu guna menyaksikan seperti apa kehidupan mereka sekarang.

Pukul enam pagi. Kicauan jam weker membangunkan saya dari tidur. Petualangan melacak eksistensi Suku Luobu dimulai di Yuli County. Saya bergerak ke arah barat daya selama satu jam dan menemukan hamparan hutan Euphrates poplar. Tak ada pemandu. Seluruh petunjuk saya dapatkan dari para sopir di jalan. Dari mereka juga saya mengetahui bahwa Desa Luobu terletak di ujung jalan berliku yang membelah hutan.

Pasir yang beterbangan dengan segera menghapus jejak siapa pun yang lewat. Di ekspedisi ini, tersesat adalah tragedi yang harus bisa dimaklumi.

Hutan Euphrates poplar yang menjalar sampai ke hilir Sungai Tarim sudah tumbuh di muka bumi sejak 130 juta tahun silam. Pohon ini seolah tumbuh semaunya. Ada yang berdiri tegap, meliuk-liuk bak cacing kepanasan, juga bercabang ke banyak arah layaknya arteri tubuh. Akar gemuk mereka yang menusuk bumi berfungsi menjaga batang berdiri kokoh di tengah gurun, sekaligus menyedot dan menampung air.
Euphrates poplar diberkahi daya tahan yang luar biasa. Mereka sanggup hidup selama 1.000 tahun; tetap berdiri tegap setelah mati selama 1.000 tahun; dan mampu melawan proses pembusukan bahkan setelah roboh selama 1.000 tahun. Bakat imortal inilah yang membuat mereka spesial.

Saya terus menembus jalan yang dipenuhi ranting pohon dan menemukan sebuah rumah reyot tanpa atap. Rangkanya yang melengkung terlihat dari luar. Pohon Euphrates poplar muda berdiri di gerbangnya yang diselimuti pasir. Apa gerangan yang membuat penghuninya pergi?

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner