Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

Cool Catalunya

Berkunjung ke Barcelona seperti memasuki sebuah museum yang dihuni aneka karya seni agung dari berbagai zaman. Gairah menggebu warganya pada sepakbola adalah roh lain yang mewarnai kota cantik di bibir Laut Mediterania ini. Leonardus Depari menceritakan perjalanannya menyusuri La Rambla, menikmati mahakarya Gaudi, dan menyambangi markas klub sepakbola paling flamboyan di dunia.

Sang Messiah yang dinanti-nanti itu ternyata muncul di Nou Camp. Namanya Lionel Messi. Tapi ia tidak turun ke bumi untuk menyelamatkan manusia dari Dajal, melainkan menghibur (dan membius) pencinta sepakbola di penjuru bumi dengan tubuhnya yang mungil dan gerakannya yang lincah bak kancil.
Dijuluki ”The Messiah” karena kehebatannya, Messi adalah pemain terbaik dunia versi FIFA yang kini bermain untuk klub FC Barcelona. Klub tua ini telah menjadi ikon bagi Barcelona, salah satu kota terindah di bibir Laut Mediterania. Stadion Nou Camp jauh lebih dikenal turis ketimbang pedestrian La Rambla, seperti juga Messi yang lebih populer dibanding arsitek sekaliber Antoni Gaudi. Berkunjung ke Barcelona tidak lengkap tanpa menyambangi markas FC Barcelona.

Bicara prestasi, FC Barcelona adalah satu-satunya klub dalam sejarah yang pernah meraih enam trofi sekaligus dalam satu tahun di 2009, yakni La Liga, Copa del Rey, Supercopa de Espana, UEFA Champions League, UEFA Super Cup, dan FIFA Club World Cup. Prestasi gemilangnya mengharumkan nama Barcelona ke pelosok bumi mengingat sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia hingga detik ini.

Di jagat olahraga, pesona Barcelona juga pernah mencuat di panggung internasional ketika ia menjadi tuan rumah Olimpiade 1992. Dan dua tahun lalu, keindahan seni lukis dan arsitekturnya menginspirasi sutradara ternama Woody Allen untuk merilis film romantis “Vicky Cristina Barcelona” yang berkisah tentang dua turis wanita Amerika yang mengunjungi kota ini dan jatuh cinta pada seorang pelukis lokal—yang sudah memiliki kekasih.

Berlokasi di timur laut Spanyol, tepatnya di Peninsula Iberia yang berbatasan langsung dengan Laut Mediterania di sisi timur, Barcelona adalah ibukota dari Daerah Otonomi Catalunya yang memiliki budaya dan bahasanya sendiri, yang berbeda dari mayoritas Spanyol.

Banyak cerita dalam sejarah tentang konflik antara bangsa Spanyol dan Catalunya. Walau secara legal sudah bersatu, Catalunya masih menjaga identitasnya dan mengambil jarak dari masyarakat Spanyol dengan perasaan primordial yang kental. Saat tim nasional Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, banyak warga Catalan menganggapnya sebagai kemenangan mereka, mengingat mayoritas anggota timnas berasal dari FC Barcelona. Bahkan sempat tercetus keinginan mereka memiliki timnas yang terpisah dari tim Spanyol (situs resmi klub FC Barcelona menyajikan pilihan bahasa Català [Catalunya] dan Castellano [Spanyol]). Karena itu juga, saat berlibur di Barcelona, jangan harap Anda bisa menyaksikan pertunjukan khas Matador yang notabene merupakan budaya bangsa Spanyol, bukan Catalunya.

Dengan populasi sekitar 1,6 juta jiwa, Barcelona adalah kota terbesar kedua di Spanyol setelah Madrid. Namun dalam urusan budaya, seni, dan warisan sejarah, kota ini bersinar paling terang. Pendudukan Kerajaan Romawi di abad ke-15 meninggalkan banyak pengaruh, baik dalam bentuk agama Katolik yang dianut mayoritas warga maupun banyaknya gereja tua yang tersebar di sudut-sudut kota.

Plaza de Catalunya adalah kawasan yang menjadi perbatasan bagi dua wajah Barcelona—modern dan historis. Dari alun-alun indah ini, saya menyusuri La Rambla yang menjadi arteri turis sekaligus pedestrian terindah di Barcelona. Meski hanya berjarak 1,2 kilometer, jalan yang dihiasi gang-gang kecil ini memancarkan aura artistik dan romantis yang memabukkan.

Membentang dari Plaza de Catalunya di utara dan Port Vell di selatan, bulevar La Rambla dihuni banyak seniman jalanan, seperti pesulap, pengamen, pelukis, dan yang paling menarik, manusia patung. Para ”patung” ini biasanya mengenakan kostum prajurit Romawi atau malaikat, dan berpose diam tanpa bergeming sedikit pun untuk beberapa belas menit. Kaleng-kaleng kecil disebar di jalanan guna menampung imbalan dari para turis yang lewat dan berfoto bersama.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner