
Pulau penyengat memang kalah populer dari bintan, sang tetangga yang menjadi destinasi pelesir warga Singapura, namun ia masih memiliki tempat sentral dalam sejarah literatur Asia Tenggara sebagai rahim yang melahirkan fondasi Bahasa Melayu dan Indonesia. Fadil Aziz melacak jejak peradaban di pulau mungil di barat Indonesia ini.
“Persimpanan yang indah-indah. Yaitulah ilmu yang memberi faedah. Aku hendak bertutur. Akan gurindam yang beratur.”
Bait pembuka Gurindam Dua Belas itu ditulis 163 tahun silam. Penciptanya, Raja Ali Haji, dinobatkan sebagai ”Bapak Bahasa Indonesia”. Pulau Penyengat tempat tinggal sang pujangga juga memainkan peran sentral dalam sejarah Indonesia dan negeri Jiran. Syahdan, Tumasik diberikan kepada Sir Thomas Stamford Raffles oleh penguasa pulau tersebut. Tumasik kini berjaya dengan nama Singapura, sementara Pulau Penyengat tenggelam dalam waktu.
Pulau mungil Penyengat yang habis dikelilingi dalam 15 menit
dengan becak kini menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Riau. Bersebelahan dengan Penyengat adalah Pulau Bintan, tanah kelahiran Hang Tuah, laksamana laut ulung Kerajaan Malaka yang tersohor itu. Mengunjungi Penyengat berarti memasuki salah satu episentrum Tanah Melayu. Sebuah perjalanan mengarungi sejarah yang terlupakan.
Saya mencapai Tanjungpinang, Bintan, menggunakan kapal feri dari Batam. Walau berstatus Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang masih memancarkan aura kota lama. Begitu beranjak dari pelabuhan, saya disambut pertokoan bergaya klasik—tingkat dua layaknya ruko dengan atap rumah yang miring curam; sebagian berarsitektur Cina dan terbuat dari kayu. Perdagangan adalah sektor termaju di sini. Becak-becak dan gerobak dorong hilir-mudik mengusung bermacam barang, mulai dari kebutuhan pokok hingga barang elektronik.
Saya meluncur ke Penyengat menggunakan kelotok (perahu kayu bermesin motor). Setelah 10 menit, pusat kerajaan Melayu terhampar di depan mata saya. Rumah-rumah yang dibangun di atas air jelas terlihat, apalagi bangunan Masjid Sultan Riau yang berwarna mencolok kuning cerah. Satu-satunya yang merusak pemandangan adalah menara BTS yang berdiri mengangkangi masjid. Perlahan terngiang kembali pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tentang Gurindam Dua Belas. Gurindam yang dibuat pada 1847 itu adalah tonggak Sastra Melayu dan Bahasa Indonesia, demikian guru kita menjelaskan dulu.
Sejak lebih dari 1000 tahun lalu, kepulauan Nusantara dan Asia Tenggara dijuluki Malay Archipelago. Kawasannya terbentang dari selatan Thailand di barat hingga selatan Filipina di timur laut (sebagian ahli sejarah mengklaim pengaruhnya hingga ke Madagaskar).
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Raja Malaka memindahkan kerajaannya beberapa kali hingga menjelma menjadi Kesultanan Johor yang meliputi wilayah Johor di Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Riau. Di 1804, Sultan Johor Mahmud memberikan Penyengat kepada Engku Puteri Hamidah, istrinya yang berdarah Bugis, sebagai bagian dari mas kawin (pada waktu itu banyak keturunan Bugis yang menjadi bangsawan dan menempati posisi penting di Kesultanan Johor.
Orang-orang Bugis bermigrasi ke Riau pascakeka-lahan Sultan Hasanuddin dari Belanda di 1667). Setelah Sultan Mahmud mangkat, Engku Puteri menjadi peme-gang regalia kerajaan. Di masanyalah Penyengat memainkan peranan penting.
Dengan imbalan perlindungan dari Kerajaan Inggris, Raffles berhasil meyakinkan para petinggi Kesultanan Melayu, termasuk Engku Puteri, untuk menghibahkan Tumasik (atau Singapura, disebut juga Temasek). Perjanjian ini, setidaknya kala itu, cukup menguntungkan bagi Engku Puteri: Penyengat mengalami masa keemasan. Dengan sokongan politik dan finansial dari Inggris, pulau ini bersinar dan memikat sejumlah intelektual dunia Melayu, termasuk para alim ulama dari Timur Tengah. Kajian-kajian bahasa, sastra, dan agama berkembang pesat, hingga akhirnya Penyengat menjadi salah satu pusat budaya dunia.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





