Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

The After War

Usaha gigih pemerintah Kolombia menumpas perdagangan kokain dan meredam konflik domestik mulai menampakkan hasilnya. Turis mulai berdatangan untuk mencicipi eksotisme negeri seksi produsen telenovela ini. Rusmailia Lenggogeni menikmati suasana romantis Cartagena, rehat di daerah penghasil kopi Salento, dan berpesta di Bogota.

Negara penghasil zamrud Kolombia punya reputasi yang kurang cemerlang di mata dunia. Ia dike-lompokkan dalam daftar negara berisiko tinggi yang berstatus verboten bagi turis. Berita mengenai kartel kokain dan bentrokan antara militer versus gerilyawan FARC (Revolutionary Armed Forces of Colombia) senantiasa menghiasi media, walau harus diakui negara ini juga terkenal sebagai salah satu produsen telenovela tersukses dan sarangnya gadis-gadis sensual berkulit cokelat.

Kenyataannya, sejak beberapa tahun belakangan Kolombia sudah jauh lebih kondusif, baik bagi warganya maupun turis asing. Status keamanan turun dari ”siaga satu” ke ”aman terken-dali”. Kejahatan terkait perdagangan narkoba menyusut drastis. Kehadiran personel militer di sudut-sudut negeri memberi rasa aman bagi warga. Dan seiring dengan itu penduduk Kolombia yang dikenal ramah pun mulai rajin melakoni hobi nasional mereka: pesta.

Pemerintah negara di sepanjang Laut Karibia ini pun sigap menyikapi transisi tersebut dengan giat melakukan kampanye turisme. Mereka mengusung slogan cerdas “Colombia. The only risk is wanting to stay longer.” Saya datang di periode ini, saat Kolombia sedang bersalin wajah dari sangar ke tampan.

“Empat tahun lalu, gerak kami terbatas karena ancaman penculikan,” tutur Jaime, seorang warga Bogota, “tapi sekarang kami bebas, dan turis pun mulai banyak.” Meski begitu, Bogota belumlah aman total. Pengemis mabuk, copet, dan sopir taksi nakal masih banyak berkeliaran—walau, jika mau jujur, sebenarnya tidak lebih berbahaya dari Jakarta.

Atmosfer Bogota sangat sejuk, terutama di malam hari. Wajar saja, Ibukota Kolombia ini bertengger di ketinggian 2.600 meter di atas laut (Jakarta cuma empat meter di atas laut). Untuk menjelajahi kota seluas hampir tiga kali Jakarta ini, cara terbaik adalah naik TransMilenio, saudara tua Transjakarta. Walau berumur lebih tua daripada ”Busway”, bus TransMilenio kondisinya rata-rata masih sangat baik berkat perawatan yang teratur. Jaringannya mencakup pojok-pojok kota dan tarifnya hanya berselisih sedikit dari bus kota umumnya. Konon, dalam tempo lima tahun, Trans-Milenio sukses mengobati kemacetan di Bogota.

Layaknya ibukota negara berkembang, Bogota mengidap kesenjangan ekonomi. Sentra bisnis terletak di kawasan baru yang mewah serta dihuni gedung modern dan restoran premium, kontras dengan pusat kota yang agak kumuh.

Di pusat kota, kaca toko pecah (mungkin korban perampo-kan) adalah pemandangan jamak. Banyak dinding coreng-moreng oleh vandalisme. Di sepanjang jalan terdapat banyak lapak yang menjual DVD bajakan, aneka baju, serta kudapan semacam keripik kentang dan keripik pisang homemade seharga 1.000 peso (kurang lebih Rp5.000).

Yang paling unik adalah lapak penyewaan telepon genggam. Kalau mau menelepon, kita tinggal menyewa handphone yang dirantai oleh pemiliknya, dan jika sudah selesai si empunya akan mengecek waktu pemakaian dan menyebutkan tarif yang harus dibayar. Sesekali lewat gerobak barang yang ditarik keledai di jalan besar. Di antara wajah-wajah Latin yang berseliweran, tampak tentara berpatroli.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner