
Tiap kali nama Bangkok disebut, ingatan kita langsung terbawa pada patung Buddha tidur, tom yum pedas, pijatan ala Thai, dan pasar-pasar tradisional. Ina Hapsari menyusuri tempat-tempat terbaik di kota yang setia menjaga identitasnya ini.
SAYA BERWISATA di Bangkok ditemani dua orang yang ber-nama sama—Nat. Keduanya mewakili wajah kontemporer Bangkok: modern sekaligus konservatif. Nat pertama berprofesi sebagai pemandu bermodalkan bahasa Inggris fasih yang didapatnya dari pengalaman kuliah selama enam tahun di New York. Sedangkan Nat kedua adalah pria religius yang bekerja sebagai sopir.
Patung Luang Phor Sod, biksu penyebar ajaran Buddha asal Supanburi, tertempel di dasbor mobil lengkap dengan hiasan bunga oranye yang biasa dibawa ke kuil. Nat si sopir percaya biksu tersebut selalu menjaga keselamatan kendaraan yang dikemudikannya.
Jalan-jalan di Bangkok berangsur lengang di waktu malam. Di siang hari, kota berjuluk ”The City of Angels” ini mengidap penyakit yang sama dengan Jakarta—kemacetan. Untungnya Ibukota Thailand ini sudah memiliki jaringan kereta monorail.
Nat membawa kami ke Pecinan. Para pedagang Cina di Thailand direlokasi ke tempat ini di abad ke-18 oleh Raja Rama V dari kerajaan Siam. Jalan raya pertama yang dibangun di Bangkok juga terhampar di sini—landmark yang bertanggungjawab atas perpindahan pusat peradaban dari Sungai Chao Praya ke daratan.
Pecinan adalah kawasan yang tak pernah tidur. Kehidupan tetap berdenyut meski sebagian lampu di Bangkok sudah padam. Wisatawan dan warga lokal berbaur menikmati aneka makanan di meja-meja yang berserakan di pinggir jalan. Buah-buahan segar ditata rapi di atas gerobak sementara uap panas mengudara dari keranjang dim sum yang baru diangkat. Di salah satu sisi jalan, uang-uang kertas hasil sedekah digantung menyerupai pohon sebelum kemudian dibawa ke kuil.
Kami singgah di T&K Seafood yang menebarkan aroma segar hingga radius belasan meter. Beroperasi hingga pukul dua pagi, restoran berbentuk ruko empat lantai ini adalah salah satu favorit warga. Meja-mejanya yang tersebar hingga ke badan jalan penuh terisi. Dindingnya dihiasi foto beberapa selebriti lokal yang pernah singgah. Entah siapa namanya. Kami duduk di dalam lalu memesan nasi goreng kepiting, cumi-cumi dan udang bakar, kepiting saus kari, ikan kuah, serta sup tom yum goong. Presentasinya memang sederhana, khas warung pinggir jalan, tapi rasanya sanggup meluluhkan program diet. Penggemar seafood mesti mencoba tempat ini.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





