Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

Saving Captain Cook

Terkunci waktu di pojok selatan Indonesia, Rai Sawu pernah menjadi saksi drama terdamparnya Kapten James Cook akibat kehabisan perbekalan saat hendak kembali ke Inggris usai menemukan Australia. Fadil Aziz menjelajahi pulau terpencil yang menyandarkan hidupnya dari sari pohon lontar ini.

Makanan dihidangkan dan minuman diedarkan bagi Raja Ama Doko Lomi Djara. Malam itu, suatu hari di September 1770, ia dan para punggawanya lahap menyantap daging domba Inggris. Keceriaan bertebaran di atas Endeavour. Saat malam kian larut, sang raja pamit meninggalkan kapal. Kapten James Cook segera memerintahkan anak buahnya untuk memberikan tembakan salvo sebanyak sembilan kali sebagai tanda penghormatan.

James Cook. Nama yang menghiasi buku sejarah. Kapten James Cook: penemu Benua Australia, Kepulauan Hawaii, dan orang pertama yang mengelilingi serta membuat peta Selandia Baru. Raja Ama Doko penguasa Rai Sawu dijamunya di atas geladak HM Bark Endeavour yang baru saja “menemukan” Negeri Kanguru. Peristiwa ini, meminjam istilah jurnalis Rosihan Anwar, adalah ”sejarah kecil Indonesia”. Tak setara dibanding pertempuran 10 November di Surabaya. Tapi darinya kita bisa memahami arti penting Sawu. Setidaknya di masa itu.

Rai Sawu atau Pulau Sabu yang kini menjadi bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur berada tak berapa jauh dari pesisir utara Australia. Saat itu Endeavour baru bertolak dari Teluk Botany. Niatnya hendak pulang ke kampung halaman, Inggris. Namun ekspedisi belasan bulan melingkari bumi telah menguras hampir seluruh logistik di gudangnya.

Endeavour memang sekarat. Selain bahan makanan yang tak memadai untuk perjalanan pulang, banyak awaknya jatuh sakit. Kapal gagah ini juga rusak setelah menabrak karang di Great Barrier tiga bulan sebelumnya. Para awak berharap bisa menemukan “surga baru” seperti Tahiti yang mereka temukan setahun sebelumnya. Di tengah keputusasaan itulah Cook melihat Sawu yang tampak masih hijau (walau belakangan diketahui pulau sudah tidak menerima setetes hujan pun dalam tujuh bulan terakhir).
Kapten Cook, pria Inggris yang diplomatis dan tidak menyukai keke-rasan, memutar otak.

Bagaimana caranya ia mengambil hati raja dan mendapatkan bantuan? Maka diundanglah sang raja ke kapalnya. Seekor domba Inggris yang tersisa disembelih. Bahkan anjing greyhound milik ahli botani Joseph Banks ikut dijadikan menu.

Pendekatan manis Cook bersambut. Beberapa hari kemudian Raja Sawu mengirimkan bahan makanan dan air bersih. Sejumlah uang Guinea dan senapan musket dibarter kerbau, kambing, burung, telur, dan lain sebagainya, termasuk beberapa ratus galon sirop lontar yang belakangan cukup disukai Cook dan awaknya. Berkat bantuan ini Endeavour berlayar kembali!

Sawu telah menyelamatkan salah seorang eksplorer ter-masyhur dalam sejarah planet. Sejarah kecil? Tidak bagi Inggris.

Pagi ini saya berdiri di atas kapal feri yang bertolak dari Waingapu, Sumba Timur, sekitar 15 jam lalu. Di hadapan tampak Sawu yang dibatasi garis pantai putih dan ditumbuhi pohon lontar. Pemandangannya belum berubah sejak 240 tahun silam saat Kapten Cook datang. Dalam diarinya ia menulis: “hingga ke puncak bukit, pohon lontar yang rimbun menutupi”.

Kapal-kapal kayu dari Makassar yang biasa membawa semen dan kayu bersandar di Seba, Ibukota Sawu. Perlahan feri saya merapat. Suasananya agak heboh di pelabuhan. Maklum, hubungan silaturahmi warga pulau ini hanyalah dengan kapal-kapal dari Kupang di sisi timur, Sumba di barat, dan Makassar nun jauh di utara. Di pulau mungil yang terisolasi di pojok Indonesia ini, yang lebih dekat ke Darwin daripada ke Jakarta, datangnya sebuah feri adalah peristiwa akbar yang dinanti.

Sawu, Sabu, Savu, atau Hawu memang nyaris tak pernah menghiasi tajuk media di Indonesia. Sawu adalah nama dalam bahasa Indonesia; Sabu sebutan dari orang Belanda; Savu biasa dipakai di buku-buku berbahasa Inggris; dan Hawu disematkan masyarakat setempat. Berada di perbatasan dengan Australia, iklim pulau seluas 423 kilometer persegi ini pun sedikit banyak dipengaruhi oleh tetangga raksasanya itu. intensitas curah hujannya sangat minim (kadang hanya 20 hari hujan dalam periode musim hujan).

Sederet warung kelontong berjejer selepas dari pelabuhan. Tak ada mal atau plaza. Jalan aspal sudah tersedia walau tidak lebar. Listrik hanya menyala di malam hari dan minuman dingin tergolong barang langka. Inilah Seba. Sederhana. Berstatus ibukota meski belum layak disebut kota. Saya hanya sanggup menemukan dua penginapan. Bentuknya losmen. Saya memilih Makarim yang menawarkan tarif Rp50 ribu per malam. Pemilik-nya adalah tokoh masyarakat setempat.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner