
Meski roda zaman terus berusaha menggilas, warga Suku Mentawai tetap bertahan di belantara dan hidup menyatu dengan alam. Muhammad Fadli menemui para manusia bertato di pedalaman Siberut yang menyandarkan nasib pada segala yang disuguhkan hutan..
Suatu hari di bulan Agustus 1792, terdorong rasa penasaran, John Crisp berlayar menuju gugusan pulau di barat Sumatra. Dua hari usai menembus lautan ganas, pegawai British East India Company itu dibuat kagum oleh masyarakat yang—berbeda dari penduduk daratan Sumatra—mengenakan pakaian dari kulit kayu, bertato, dan bertahan hidup dari berburu. Dokumentasi perjalanannya menjadi catatan lengkap pertama tentang kehidupan di Kepulauan Mintaon, sebuah nama pemberian pelaut Portugis satu abad sebelumnya.
Zaman sudah berubah, sebutan Mintaon hilang ditelan waktu. Nama kepulauan ini dikembalikan ke sebutan aslinya: Kepulauan Mentawai. Sejak 90-an, gelombang perairannya yang beringas memikat para peselancar kelas dunia. Investasi asing dalam bentuk resor-resor bertarif selangit didirikan demi mengeruk dolar dari turis-turis pembawa papan yang membanjiri kepulauan ini setiap pertengahan tahun. Tapi, di balik kemeriahan itu, kehidupan masyarakat asli yang saat ini terkonsentrasi di Pulau Siberut, daratan terbesar di Mentawai, tak banyak berubah.
Saya mengawali perjalanan di Siberut dengan berjalan terhuyung-huyung di Dermaga Mailepet. Malam sebelumnya, kapal yang saya tumpangi selama 10 jam dari Padang berulang kali dikulum ombak besar yang dikirimkan oleh badai di Selat Mentawai. Mungkin sama dahsyatnya dengan yang dialami John Crisp. Dengan perut mual dan kepala pening, saya menumpang ojek menuju Muara Siberut yang berjarak sekitar enam kilometer dari dermaga. Dan siksaan ternyata belum berakhir, sebab jalanan di sini tak kalah sadis dari ombak badai—bergelombang dan mengocok perut dengan lubang-lubang seukuran kubangan kerbau.
Muara Siberut merupakan gerbang menuju Hulu, julukan bagi kawasan pedalaman Siberut. Meski disebut “kota”, ia membisu layaknya sebuah desa terpen-cil. Absennya fasilitas urban seperti konek-si internet, pasar swalayan, dan ATM melengkapi reputasinya sebagai tempat yang ketinggalan zaman.
Saya menumpang perahu motor ke Hulu bersama dua turis asing dan Ricky, teman saya yang mirip ensiklopedia berjalan berkat pemahamannya yang mendalam atas seluk-beluk Mentawai. Meski bukan orang asli Mentawai, ia sudah dianggap bagian dari keluarga karena terlalu seringnya bertandang. Sesuai saran ”Rickypedia”, kami meluncur ke Rorogot, desa tradisional Suku Mentawai dari klan Sakalio.
Pemandangan pasir putih pantai berganti menjadi sungai kecokelatan yang disusupi endapan lumpur. Siberut yang tak memiliki jalan raya terhubung dengan dunia luar lewat sungai yang mengalir meliuk-liuk ini.
Berbeda dari jalan tol yang membo-sankan, sungai menawarkan banyak suguhan menarik untuk membunuh waktu. Burung-burung beragam warna beterbangan dari pohon rumbia di sisi sungai. Terkadang terlihat juga perahu-perahu warga yang mengangkut hasil bumi seperti pisang dan rotan. Sungai tak cuma berfungsi sebagai prasarana transportasi, tapi juga jembatan budaya untuk mengenali jati diri warga Siberut.
Dua jam kemudian perahu menepi. Belasan anggota klan Sakalio menyambut kami. “Anai leu ita, anai leu ita.” Mereka menyapa dalam bahasa mentawai. Tak jelas apa artinya. Seakan baru saja mengendarai mesin waktu ke masa lampau, di depan saya berdiri orang-orang bertato, bertelanjang dada, dan berbalut kabit (celana berbahan kulit kayu).
Getting there
Pulau Siberut masuk wilayah Sumatra Barat. Jaraknya sekitar 180 kilometer dari Padang. Kapal laut yang berangkat dari Pelabuhan Bungus menjadi satu-satunya alat transportasi untuk menjangkaunya. Rute ini dilayani dua kali dalam sebulan oleh KM Sumber Rezeki (setiap Senin minggu pertama dan keempat) dan KMF Ambu-Ambu (setiap Rabu minggu kedua dan ketiga), dengan harga tiket antara Rp70.000 - 100.000. Dari Muara Siberut perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor bertarif Rp1.500.000 - 4.000.000 pp. Pemandu lokal yang menawarkan paket perjalanan bisa ditemui di Muara Siberut. Harga paket rata-rata untuk perjalanan selama seminggu mulai dari Rp2.000.000 per orang (all-in).
When to go
Sulit menentukan kapan waktu terbaik untuk berkunjung sebab cuaca di Siberut mustahil diprediksi. Ombak besar yang biasanya datang di pertengahan tahun (Juni - September) seringkali membuat jadwal kapal laut molor hingga berjam-jam atau bahkan dibatalkan. Peristiwa apes yang harus dimaklumi.
Where to stay
Tidak ada hotel di pedalaman Siberut. Uma, rumah tradisional Suku Mentawai, adalah satu-satunya akomodasi. Bekal makanan harus dibawa dari Muara Siberut. Makanan tradisional seperti sagu dan ulat sagu bisa dinikmati bersama penduduk setempat di uma mereka.
What to do
Menyelami kehidupan masyarakat tradisional Mentawai dengan segala dinamikanya menjadi atraksi paling menarik di pedalaman Siberut. Berburu, meramu racun, menjala ikan, mengolah sagu, dan ikut-ikutan mengenakan celana kabit layak dicoba jika Anda ingin merasakan dunia dari sudut pandang orang suku. Para sipatiti telah menyiapkan tantangan ekstrem bagi turis yang ingin menghiasi tubuh dengan tato. Pengunjung juga bisa menyaksikan keragaman hayati di pulau ini dengan mengunjungi Taman Nasional Siberut.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





