Jutaan orang menyerbu Sungai Gangga untuk menghapus dosa dan mencicipi air keabadian mitologis milik para dewa. Zee dan fotografer Bartasan Wauran menceritakan keajaiban Festival Kumbh Mela.
Bayangkan seluruh penduduk Jakarta berkumpul dalam satu wadah. Seperti itulah pemandangan yang tersaji di Kumbh Mela. Dalam tiga penyelenggaraan terakhir, festival tiga tahun sekali ini selalu dihadiri lebih dari 10 juta orang. Media-media internasional menobatkannya sebagai ”perhelatan spiritual dengan peserta terbanyak sejagat”.
Bagi orang Hindu di India, Kumbh Mela tak ubahnya ibadah haji. Tiap orang ingin menjalaninya setidaknya satu kali seumur hidup. Mempertimbangkan fakta populasi India yang menembus angka satu miliar jiwa, wajar saja jika festival ini selalu ramai. Kumbh Mela diadakan empat kali tiap 12 tahun di empat tempat berbeda: Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain, dan Nasik—semuanya di India Kumbh Mela berasal dari kata ”Kumbh” yang berarti pot besar, dan ”Mela” yang bermakna pertemuan.
Drama pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan menginspirasi kelahiran festival ini. Syahdan, sejumlah dewa dan iblis bersepakat mencip-takan nektar keabadian dari samudra susu yang kemudian akan dibagi secara adil di antara mereka. Setelah 1.000 tahun, ramuan ajaib itu akhirnya tercipta. Drama yang terjadi setelahnya memiliki banyak versi. Ada yang mengatakan iblis secara licik mencuri pot berisi ramuan, hingga memicu pertarungan sengit selama 12 hari 12 malam dalam hitungan jam para dewa (12 tahun jika memakai jam manusia). Konon, di tengah pertempuran, air keabadian menetes ke empat tempat di India yang kini menjadi tuan rumah festival. Versi yang lain menuturkan justru para dewalah yang menggondol pot, lalu menyembunyikannya di empat tempat karena khawatir akan ditenggak iblis hingga habis.
Penentuan lokasi tuan rumah Kumbh Mela didasarkan pada pertimbangan astronomi yang cukup kompleks. Misalnya, jika Jupiter berada dalam rasi bintang Taurus serta matahari berada dalam Capricorn, maka Kumbh Mela akan dirayakan di Prayag. Tapi jika Jupiter berada di zona Aquarius dan matahari di Aries, maka festival diadakan di Haridwar.
Prosesi utama festival adalah pencelupan tubuh peserta ke Sungai Gangga untuk menghapus segala dosa serta membe-baskan roh dari gerbang kematian. Kegiatan lainnya mencakup ceramah keagamaan, bersedekah, melantunkan pujian-pujian di banyak tempat, hingga membagikan makanan dan harta benda kepada kaum papa.
Tahun ini, Kumbh Mela diadakan di Haridwar. Para shadu atau orang suci Hindu mencukur rambut lalu menghabiskan waktu dari fajar hingga senja dengan mencelupkan diri ke Gangga. Lautan manusia dari berbagai kasta melebur di tepi sungai. Ada raja, pejabat, akademisi, hingga rakyat jelata.
Keriuhan dimulai tiga minggu sebelum puncak acara. Tiket kereta dan pesawat ludes. Tenda-tenda shadu memenuhi lahan-lahan sempit. Bajaj yang terkenal lincah di gang ”senggol” tak mampu bergerak luwes. Untuk mengantisipasi kemacetan, polisi menggeser terminal bus sejauh 10 kilometer dari tempat semula. Pelancong yang ingin menyaksikan acara harus siap merogoh kocek lebih dalam, karena harga akomodasi melonjak hingga 10 kali lipat—itu pun jika masih ada kamar yang kosong.
Kawasan Har Ki Pauri digunakan para shadu dan kaum VIP untuk mengadakan ritual mandi suci. Hanya jurnalis yang diizinkan mendokumentasikan kegiatan mereka. Sebagian shadu yang tidak kebagian tempat berkumpul di sebuah tenda lalu bersama-sama mengisap ganja. Barang ini rupanya legal.
Semua orang mengantre menuju sungai. Pertunjukan ekstrem semacam debus menjadi penghibur di tengah kema-cetan. Lalu muncul gajah-gajah besar yang mengangkut para pejabat menembus kerumunan manusia. Para shadu menari-nari tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh. Melenggak-lenggok, melompat ke sana-sini, dengan cuek. Polisi kewalahan mengatur para peziarah. Esok harinya, media lokal Indian Times melaporkan tujuh orang meninggal dunia di tengah perayaan. Tak terhitung jumlahnya yang terinjak-injak. Seorang peziarah mengatakan semua itu adalah bagian dari pengorbanan bagi dewa yang telah memberi mereka kehidupan.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





