Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

A City In Pink

Di antara bangunan-bangunan bercat jambon, maharaja hidup dalam status ningratnya sebagai simbol sekaligus penjaga warisan budaya Rajasthan. Dari atas bajaj, Trinity menyusuri Jaipur, kota touristy yang masih menawarkan pengalaman autentik India, mulai dari istana bercorak Hindu, burger vegetarian, hingga bioskop Bollywood yang disesaki penonton yang berjoget-joget layaknya Shahrukh Khan dan Kajol.

Siapa bilang naik kereta di India tidak enak. Tam-pilan keretanya memang menyedihkan, tapi kualitas servisnya setara kelas bisnis pesawat. Kereta saya berangkat dari New Delhi menuju Jaipur. Gerbongnya sangat banyak, mulai dari kelas ekonomi yang tanpa jendela hingga kelas CC (Chair Car) yang dialiri pendingin udara dengan tempat duduk berjejer menghadap satu arah. Saya memilih kelas yang terakhir.

Baru berjalan 10 menit, semua pe-numpang diberi satu botol air minum. Selang 15 menit, datang baki kecil berisi roti, mentega, selai, telur omelet, sayuran hangat, dan jus jeruk—lengkap dengan pisau dan garpu stainless steel. Belum sempat makanan turun ke lambung, datang lagi satu termos berisi air panas beserta dua kantong teh, susu, dan gula. Perjalanan mewah selama lima jam ini bisa dinikmati dengan tiket hanya Rp93 ribu.

Jaipur adalah ibukota negara bagian Rajasthan yang terletak di India bagian utara. Rajasthan dijuluki “rumah para Rajput”, yakni suku prajurit yang berasal dari matahari, bulan, dan api, yang menguasai kawasan ini selama 1.000 tahun sebelum datangnya invasi Inggris. Saat India memproklamasikan kemerdekaannya, Rajasthan diinisiasi menjadi bagian resmi negara dengan syarat para maharaja tetap boleh memegang status ningratnya. Cerita ini mengingatkan saya pada Yogyakarta yang hingga kini masih diperintah raja walau Indonesia secara politik dipimpin presiden.

Vinod, pemilik hotel Krishna Palace, menjemput saya di Stasiun Jaipur. Begitu keluar dari gerbang stasiun, para sopir bajaj (disebut ”auto rickshaw”) langsung mengerubungi saya sambil menawarkan jasa dengan nada agak memaksa. Yang lebih menyebalkan, mereka tak cuma bertanya “mau ke mana?”, tapi juga “sudah punya pacar?”

Esok harinya, saya dan Jo, seorang wanita asal Inggris, berkeliling kota naik bajaj bertarif Rp60 ribu yang kami bayar patungan. Ali, sopir kami, adalah pemuda 25 tahun yang hobi berbicara dengan volume yang mengalahkan suara knalpot bajaj. Tapi setidaknya ia lebih sopan dibanding rekan-rekannya di stasiun. Di perjalanan, Ali memberhentikan bajajnya di sebuah warung lalu mentraktir chai (teh bercampur susu). Seorang lelaki setengah baya berpakaian lusuh tiba-tiba datang dan langsung mencoreng dahi kami dengan bubuk berwarna merah. Ia berdoa, lalu meminta bayaran. Inilah taktik para pengemis mencari uang—berpura-pura menjadi pendeta Hindu.

GETTING THERE
Maskapai yang melayani rute Jakarta-New Delhi antara lain Emirates ($664) dan Singapore Airlines ($972)—semua harga pp di Oktober. AirAsia memiliki rute ke New Delhi, tapi pesawat tidak berangkat dari Jakarta, melainkan Kuala Lumpur. Perjalanan ke Jaipur bisa dilanjutkan menggunakan Jet Airways ($167) atau kereta api dengan waktu tempuh lima jam (Rp93.000, kelas CC, termasuk makan). Cara yang terakhir ini lebih menyenangkan.

When to go
Pertengahan Oktober sampai pertengahan Maret di saat udara lebih sejuk adalah momen terbaik untuk mengunjungi Jaipur. Tapi karena periode ini tergolong high-season, sebaiknya Anda melakukan reservasi jauh hari untuk hotel, pesawat, dan operator tur.

Where to stay
Krishna Palace adalah penginapan yang murah dan bersih dengan lokasi yang strategis di tengah kota [E-26, Durga Marg, Banipark, T.91 141 220 1395, www.krishnapalace.com, mulai dari $11]. Untuk hotel kelas menengah, cobalah Hotel Madhuban yang dikelilingi pepohonan tinggi [D-237 Bihari Marg, Bani Park, T.91 141 220 0033, www.madhuban.net, mulai dari $34]. Pelayanan dan harga premium ditawarkan The Oberoi Rajvilas yang terletak delapan kilometer dari Jaipur [Goner Road, T.91 141 268 0101, www.oberoihotels.com, mulai dari $609].

What to do
Jaipur menawarkan wisata sejarah ke istana dan bangunan tua yang pernah menjadi saksi kebesaran peradaban Rajasthan. Tempat terbaik untuk memulai adalah kawasan Old City yang ditumbuhi bangunan berwarna jambon. Situs-situs yang tak boleh dilewatkan adalah menara Iswari Minar Swarga Sal, observatiorium Jantar Mantar, dan City Palace yang menyimpan bejana air raksasa yang dibentuk dari lelehan 1.400 koin perak. Jika ingin mencari oleh-oleh, penting diingat, pasar di Jaipur umumnya memiliki spesialisasi produk. Kain sari bisa didapat di Bapu Bazaar; pakaian katun di Johari Bazaar; dan perhiasan di Siredeori Bazaar. Sempatkan waktu mampir ke Raj Mandir Cinema untuk menonton film bersama para penonton yang berdandan dan berjoget ala bintang-bintang Bollywood.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner