Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

Pearl of the East

Ini pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di Raja Ampat. Keindahan gugusan 610 pulau di Papua Barat ini sudah begitu sering saya dengar, terutama dari teman-teman yang hobi menyelam. Sebuah data menyebutkan, perairan Raja Ampat menyimpan 75 persen spesies koral dunia dan 1.320 jenis ikan karang. Begitu indahnya hingga teman-teman belum merasa diver sejati jika belum menyelaminya.

Namun saya tidak akan membahas keajaiban bawah air tersebut. Ulasan yang lebih kredibel tentunya bisa ditemukan di majalah-majalah diving, bukan dari mulut penyelam amatir seperti saya. Mei lalu, saya berkunjung ke Raja Ampat guna menyaksikan Festival Bahari, perhelatan yang untuk pertama kalinya diadakan guna menyambut ulang tahun ke-7 kabupaten ini.

 

Pesawat mendarat di Bandara Domine Edward Osok yang sejak 2005 menggantikan peran Bandara Jefman di Pulau Jefman sebagai bandara utama di Sorong. Letaknya diapit oleh area perkebunan dan permukiman penduduk. Berhubung tidak ada kawat pembatas di sekitar bandara, jangan heran jika Anda melihat warga melintasi landasan pacu dengan cuek layaknya menyeberangi jalan di depan rumah.
Di lobi kedatangan yang sederhana, sejumlah warga yang berseragam jingga langsung mengerubungi penumpang. Agak sulit untuk mengelak dari para porter ini berhubung bandara belum dilengkapi conveyor belt. Begitu tas-tas meluncur dari sebuah lubang di tembok, mereka langsung menyerbu. Pastikan untuk menyepakati ongkos angkutnya sebelum Anda menggunakan jasa mereka.

Raja Ampat masih harus ditempuh selama dua jam perja-lanan laut menggunakan kapal cepat Marina Express yang beroperasi setiap hari pada pukul 14:00. Untuk memasuki Raja Ampat, sejak 2007 pemerintah mewajibkan wisatawan membeli pin seharga Rp500 ribu untuk wisatawan asing dan Rp250 ribu untuk domestik. Harga yang kelewat mahal memang, tapi pin ini berlaku selama setahun. Kita bisa membelinya di Pusat Wisata Raja Ampat di Bali, Bandara Sorong, atau di Hotel JE Meridien Sorong. Layaknya retribusi, dana penjualan pin kemudian dimanfaatkan pemerintah daerah untuk membiayai program-program pembangunan, aktivitas konservasi, serta pemberdayaan masyarakat.

Pelabuhan Rakyat Sorong tempat kapal feri berlabuh disemuti calon penumpang. Sebagian adalah penduduk asli, namun banyak di antaranya merupakan penonton dan peserta Festival Bahari. Beberapa orang terlihat mengusung perlengkapan pentas seperti topi bulu burung dan alat musik tradisional, salah satunya tifa (gendang kecil).

Dalam kapal berpendingin ruangan ini, kami dihibur oleh tayangan televisi berisi opera sabun yang diperankan warga setempat. Intinya adalah anjuran untuk selalu menggunakan kondom. Kampanye seperti ini dalam berbagai bentuknya mudah ditemukan di area publik mengingat pulau di timur Indonesia ini masuk kategori merah dalam hal penyebaran HIV. Data PapuaWeb menyebutkan, di 2005, dari 100 ribu penduduk, 26 di antaranya terjangkit HIV—angka tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia, sekaligus potret suram dari pulau yang dikenal dunia sebagai salah satu produsen emas terbesar.i

GETTING THERE
Festival Bahari dijadwalkan untuk diadakan kembali tahun depan. Raja Ampat bisa dijangkau dari Sorong menggu-nakan kapal cepat Marina Express yang berangkat tiap hari pada pukul 14:00 dari Pelabuhan Rakyat. Waktu tempuhnya dua jam dengan tiket Rp120 ribu per orang. Beberapa penerbangan yang melayani rute Jakarta-Sorong adalah Merpati Nusantara, Lion Air, Batavia Air, dan Express Air, dengan harga tiket mulai dari Rp3.241.000 pp di September. Acropora, cottage milik pemda, layak dipilih berkat lokasinya yang strategis di Pantai Waisai [ Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya , Rp600 ribu per kamar berisi dua orang]. Untuk informasi seputar aktivitas yang bisa dilakukan di Raja Ampat, silakan klik www.gorajaampat.com.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner