Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

The Blue Gate

Meski jumlah maskapai yang mengunjunginya kini menyusut, Labuan Bajo terus memikat pelancong yang datang untuk menikmati keindahan alam bawah lautnya serta mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya yang dihuni komodo. Heru Hendarto menceritakan keindahan kota pesisir yang menjadi gerbang masuk ke Taman Nasional Komodo ini.

Berlokasi di pojok barat Pulau Flores, Labuan Bajo sejak lama dikenal sebagai gerbang masuk utama ke Taman Nasional Komodo yang men-cakup Pulau Rinca, Komodo, dan Padar.

Konon, sekitar 2.500 komodo hidup di ketiga pulau kecil itu. Namun Labuan Bajo tak bisa dipandang sebelah mata sebagai ”kota persinggahan” semata. Ibukota Manggarai Barat ini telah ber-kembang menjadi destinasi wisata yang dihuni banyak resor dan titik diving. Banyak ekspatriat memiliki properti atau perusahaan operator wisata di sini.

Saya mengunjungi Labuan Bajo meng-gunakan KM Tilongkabila yang berangkat dari Bau-Bau. Perjalanan memakan waktu dua hari dua malam. Saat saya datang, suasana kota sangat ramai. Banyak sekali turis asing, mungkin karena saya datang di musim liburan. Dengan kepala masih goyang akibat dikocok gelombang, saya memanggul tas ransel lalu berjalan menyusuri pelabuhan. Labuan Bajo berasal dari kata ”labuan” yang berarti persinggahan dan Bajo yang merupakan nama suku pengembara laut dari Sulawesi yang konon menjadi kaum pendatang awal di kota ini.

Matahari beranjak naik saat saya membelokkan langkah memasuki perkam-pungan Suku Bajo yang dijuluki Kampung Air. Beberapa orang pria menyapa dengan ramah, sementara kaum ibu me-lemparkan senyum dari balik jendela rumah. Sambutan yang hangat dari suku petualang laut. Seumur-umur belum pernah saya melihat begitu banyak kapal kayu berlabuh di satu tempat. Tak kurang 200 kapal dari berbagai jenis tertambat, mulai dari sampan dayung kecil, speedboat, bagan penangkap ikan, hingga kapal barang. Di sekitar pelabuhan juga terapung yacht dengan berbagai ukuran.

Rumah-rumah kaum pendatang masih mencirikan daerah asal mereka—rumah panggung berbahan kayu dengan ciri khas bubungan di atap depan. Elemen unik ini disebut sambunglayang dalam bahasa Makassar. Jika bentuknya menyilang seperti huruf V, bisa dipastikan si pemilik rumah adalah orang Bugis dari Bone atau Makassar, sedang jika bercabang dua seperti huruf U maka penghuninya adalah warga Suku Mandar. Saya meninggalkan Kampung Air lalu mencari hotel untuk melepaskan penat di badan.

Mencari hotel di Labuan Bajo saat peak season seperti mencari taksi di Jakarta di jam sibuk. Sudah empat hotel dan losmen di sepanjang pelabuhan dan bukit yang saya datangi, namun semua kamarnya penuh terisi. Sebenarnya ada satu yang memberikan harapan, tapi peluang saya sangat tipis. “Masih menunggu kepastian turis yang check-out siang ini Pak, tadi malam sih mereka berniat begitu,” ujar sang resepsionis. Dengan langkah gontai dan separuh putus asa, saya menghampiri sebuah losmen yang letaknya agak terlindung di balik pepohonan dan bangunan ruko. Pilihan yang tepat. Ada satu kamar tersisa.

Getting there
Meski masyarakat semangat mengusung Taman Nasional Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia, sayangnya tak banyak maskapai yang terbang ke Labuan Bajo, gerbang masuk ke Taman Nasional. Mandala Airlines dan Merpati Nusantara sebenarnya melayani rute ke Labuan Bajo, tapi jadwal mereka tidak tetap. Maskapai yang tersedia kini adalah Batavia Air (Rp2.014.000) dan Trans Nusa (Rp1.474.000) yang terbang dari Denpasar ke Labuan Bajo—semua harga pp di September. Opsi lain adalah naik kapal feri antarpulau dari Lombok Timur.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner