Ada dua asosiasi yang muncul di benak saya saat kata "Kalimantan Timur" disebut. Pertama adalah Kota Minyak" Balikpapan yang merupakan kampung halaman saya. Kedua, KEsultanan Kutai Kartanegara, salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang menyimpan sejarah kolosal. Namun kunjungan terakhir saya ke Kaltim berhasil menggeser kedua konotasi tersebut. Provinsi terluas kedua di Indonesia ini telah banyak berubah, sebagian berkat devisa yang dipanen dari ekstraksi batu baru. Saya menyaksikan masjid agung dengan ukuran yang menantang Istiqlal, dua stadion sepakbola berdesain mewah layaknya markas klub kondang Eropa, dan menara pandang berteknologi canggih yang menuguhkan panorama kota.
Dari Balikpapan, saya meluncur ke Samarinda, Ibukota Kaltim, menggunakan bus umum. Tarifnya hanya Rp. 21.000. Total waktu perjalanan 150 menit. Perbukitan dan hutan tropis menjadi tontonan segar dari balik jendela. Namun atraksi yan glebih menarik sebenarnya tersaji di dalam bus: mayoritas penumpang berbicara dalam bahasa Jawa medok. Mereka adalah para transmigran yang rela meluncur sejauh 1.000 kilometer dari Pulau Jawa dei mengubah garis hidup di tanah harapan.

Saya berhenti sejenak di Jembatan Mahakam yang membentang sepanjang 400 meter dan menjadi gerbang masuk ke Samarinda. SUasana cukup ramai, mirip kota pelabuhan. Perahu, speedboat, ponton pengangkut batu bara, dan kapal tanker memenuhi badan Sungai Mahakam yang mengalir sejauh 920 kilometer. Di kejauhan terlihat sebuah masjid besar lengkap dengan menara-menaranya yang mencolk langit. Namanya Islamic Center/ Di hadapan mentari senja, bangunan menampilkan siluet yang membuatnya mirip Blue Mosque di Turki.
Islamic Center memiliki luas 43.500 meter persegi, menjadikannya masjid terluas (hanya dari segi luas lahan, bukan daya tampung jemaah) di Asia Tenggara setelah Istiqlal di Jakarta. Rumah suci ini layak disebut landmark. KEmegahannya mengundang decak kagum bagi siapa pun yang melihat hanya dari sekali pandang. Menara utamanya ya ng menjulang setinggi 99 meter melambangkan 99 nama Allah, sementara enam menara pendampingnya melambangkan enam rukun iman.
Mahakarya arsitektur lain yang saya kunjungi adalah Stadion Utama Kaltim yang berdiri di Palaran. Pembangunannya menguras dana sekitar RP. 800 miliar.

Dengan kapasitas 30ribu penonton (Gelora Bung Karno 100 ribu penonton), markas klub sepakbola Persisa Putra Samarinda ini langsung bertengger dalam daftar stadion termegah di Indonesia.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





