
Apakah Occitania benar-benar ada? Tak seorang pun diplomat di dunia mengakui keberadaan negara dengan nama tersebut. Namun sejarah negara ini sudah berjalan ribuan tahun dan ”provinsi”-nya membentang dari perbatasan Pegunungan Pyrenees di Spanyol, melintasi Gascony, Languedoc, dan Camargue, hingga ke Lembah Piedmont di Italia.
Sekitar 13 juta jiwa hidup di negara ”bayangan” ini, mayoritas berbicara (atau setidaknya mengerti) bahasa kuno Occitan atau bahasa d’Oc–bahasa Provencal yang menjadi bahasa persatuan di abad ke-13. Sebanyak 200 ribu Occitanian hidup dan menetap di Italia, sebagian terpencar di lebih dari 12 lembah di kawasan Imperia, Cuneo, dan Turin. Daerah-daerah ini menjadi bagian dari Pegunungan Alpen Maritim, sebuah nama oksimoron, tempat di mana lautan dan pegunungan, kawasan utara dan selatan, petani dan penggem-bala, serta Lembah Po dan Rodano hidup berdampingan dalam harmoni.
Sembari menyeruput segelas pelaverga (anggur merah favorit Paus Julius II di Roma) dan menyantap keju castelmagno, Prezzemolo bercerita menge-nai komplotan pria bersenjata dan para penyelundup. “Kalian tahu bagaimana prajurit Prancis menjaga kondisi tubuhnya tetap prima?” tanya pria berjanggut panjang ini dengan nada retorik. ”Mereka berdiri di ujung jari-jemari kakinya bak balerina. Tak ada latihan yang lebih berat dari itu, badan akan terasa sangat tegang.”
Setiap akhir musim panas, di Lembah Grana yang terletak di Cumboscuro, sebelah barat Pegunungan Alpen Italia, warga menggelar Roumiage de Septembre, sebuah perayaan ziarah kuno yang kini menjelma menjadi festival bagi dua kawasan bersaudara—Piemonte di Italia dan Provence di Prancis. “Berabad-abad yang lalu warga Cuneo memiliki hubungan erat dengan penduduk di kawasan bawah Provence,” tutur Prezzemolo kepada penontonnya yang tengah duduk di atas rerumputan. “Kawanan dulu ini berpindah dari dataran Rodano dan berpesta di pegunungan kami. Dan para gembala pun berucap dalam bahasa yang sama dengan kami: Occitan.”
Jalur terowongan pertama Eropa dibuka di akhir 1400-an. Ukurannya dianalogikan “setinggi manusia di atas pelana keledai dan selebar keledai yang mengangkut karung garam di kedua sisinya.” Terisolasi oleh Pegunungan Alpen di timur, dengan jalur utama melintasi wilayah Savoy, Marquis asal Saluzzo pernah memutuskan untuk menembus Gunung Monviso. Kemegahan gunung ini memang luar biasa! Puncaknya mirip piramida yang dapat dilihat dari sudut mana pun di Piedmont. Bangsa Romawi menjulu-kinya Vesulus, ”gunung tertinggi sejagat”.
Lembah Po adalah tempat kelahiran “nenek moyang” dari semua sungai di Italia, di bawah bayangan pegunungan Monviso dan di atas tanah milik para Occitanian. “Aku menemukan hasratku 15 tahun silam,” jelas Sano. Wanita Jepang ini mengajar bahasa Prancis di Tokyo. Sore ini, di Ostana, ia menyaksikan panorama matahari terbenam di balik Monviso. “Saya pernah membaca buku tentang bahasa Occitan dan menyadari bahasa itu sesungguhnya adalah bahasa Inggris di abad ke-13. Di Eropa, semua duta besar, tukang pos, dan orang istana menggunakannya. Lalu linguistik Prancis mendominasi dan membuatnya nyaris punah sepenuhnya. Tapi ternyata masih ada yang tersangkut di lidah. Lembah ini bagaikan surga bagi orang-orang yang memiliki hasrat besar pada linguistik Eropa minoritas, seperti saya.”
Occitania adalah negara “yang tidak ada”. Ia tidak pernah diperkenalkan secara resmi. Tapi benderanya (gambar Salib Cathar) berkibar di atas balai kota di seantero Eropa. Occitania juga merupakan kawasan yang memiliki karakter geografis bervariasi. Daerahnya memayungi pegunungan setinggi 4.000 meter yang menjadi atap bagi Eropa, kawasan hutan lindung dan lembah terpencil, padang bunga matahari khas Provence, serta pesisir Cote d’Azur dan French Riviera yang menawan.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





