| Indeks Artikel |
|---|
| Beyond Europe |
| engelberg |
| Grasse |
| Vilnius |
| Semua Halaman |
Bruges
Bruges memang kalah tenar dibanding Brussels, tapi ia punya dua gelar yang memberinya tempat di hati para pelancong: ”Ibukota Cokelat Dunia” dan ”Kota Abad Pertengahan”. Saya mengunjunginya karena penasaran dengan gelar yang kedua.
Julukan ”Medieval Town” yang disandang Bruges bukan slogan pariwisata semata, namun benar-benar berpijak pada sejarah. Kisah Bruges bisa dilacak pada abad ke-9 saat kota ini ditemukan oleh pelaut-pelaut Viking. Nama Bruges atau Brugge kemungkinan berasal dari bahasa Skandinavia ”Bryggia” yang berarti ”penghubung” atau ”pelabuhan”. Kota ini memang berdiri di bibir laut utara.
Layaknya kota pelabuhan, Bruges menikmati perkem-bangan ekonomi yang pesat. Pada abad ke-13, ia menjadi kota perdagangan dan industri di Belgia. Kemudian pada abad ke-14, ia mulai dikenal sebagai pusat keuangan internasional. Sejumlah negara membuka kantor perda-gangannya di sini, termasuk Italia, Skotlandia, Spanyol, dan Jerman. Tak heran, pada masa itu, Bruges menjadi kota kosmopolitan yang dihuni warga yang berbicara dalam banyak bahasa.
Bumi berputar dan Bruges mengalami pasang surut. Kejayaannya sebagai kota perdagangan perlahan meredup pada abad ke-15. Pangkal masalahnya adalah krisis di bisnis tekstil dan munculnya kota-kota pelabuhan pesaing, salah satunya Antwerp yang sampai sekarang masih berjaya sebagai kota pelabuhan internasional. Puncaknya adalah pada abad ke-18 saat status Bruges terjerembap menjadi daerah termiskin di Belgia.
Pergantian milenium jadi momentum peralihan Bruges dari kota industri menjadi kota wisata. Segala yang tersisa dari sejarah emasnya disulap menjadi aset guna memikat turis. Di 2000, UNESCO menempatkannya dalam daftar World Heritage Site....
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





