Ada dua asosiasi yang muncul di benak saya saat kata "Kalimantan Timur" disebut. Pertama adalah Kota Minyak" Balikpapan yang merupakan kampung halaman saya. Kedua, KEsultanan Kutai Kartanegara, salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang menyimpan sejarah kolosal. Namun kunjungan terakhir saya ke Kaltim berhasil menggeser kedua konotasi tersebut. Provinsi terluas kedua di Indonesia ini telah banyak berubah, sebagian berkat devisa yang dipanen dari ekstraksi batu baru. Saya menyaksikan masjid agung dengan ukuran yang menantang Istiqlal, dua stadion sepakbola berdesain mewah layaknya markas klub kondang Eropa, dan menara pandang berteknologi canggih yang menuguhkan panorama kota.
Dari Balikpapan, saya meluncur ke Samarinda, Ibukota Kaltim, menggunakan bus umum. Tarifnya hanya Rp. 21.000. Total waktu perjalanan 150 menit. Perbukitan dan hutan tropis menjadi tontonan segar dari balik jendela. Namun atraksi yan glebih menarik sebenarnya tersaji di dalam bus: mayoritas penumpang berbicara dalam bahasa Jawa medok. Mereka adalah para transmigran yang rela meluncur sejauh 1.000 kilometer dari Pulau Jawa dei mengubah garis hidup di tanah harapan.
