Negara kepulauan Filipina menawarkan wisata diving bertarif murah di pulau-pulau kecil yang terkoneksi dengan sistem transportasi laut modern. Berikut kisah Trinity menjelajahi dua surga tersembunyi di Filipina, Kepulauan Calamian dan Pulau Camiguin.
Entah mengapa Filipina sampai sekarang kurang dilirik sebagai destinasi wisata oleh orang Indonesia. Kalau pun ada yang pernah mengunjunginya, paling hanya mampir di Manila. Padahal, Manila tak mampu mewakili keindahan Filipina, seperti juga Jakarta tak sanggup merangkum Indonesia.
Sudah empat kali saya mengeksplorasi Filipina dan tak sekali pun pernah merasa bosan. Negeri ini tersusun oleh 7.107 pulau yang hampir semuanya terkoneksi oleh sistem transportasi yang maju dan bertarif terjangkau. Orang-orang lokal yang biasa disebut ”Pinoy” terkenal ramah, sopan, serta mudah diajak berteman.Mei lalu, saya kembali menyambangi Filipina. Tujuan saya adalah Kepulauan Calamian yang terletak 315 kilometer barat daya Manila. Kepulauan seluas 1.753 kilometer persegi ini tersusun oleh tiga pulau utama, yakni Busuanga, Culion, dan Coron. Perjalanan ditempuh dari Bandara NAIA 3 Manila menggunakan pesawat baling-baling berkapasitas 72 penumpang. Sebelum terbang, saya diwajibkan menimbang berat badan guna memastikan pesawat tidak akan kelebihan beban. Untungnya mesin timbangan kini menggunakan sistem digital, sehingga petugas tak perlu meneriakkan berat badan saya di depan umum seperti dulu.
Dalam tempo sejam, pesawat mendarat di Bandara Busuanga. Saya menerus-kan perjalanan ke Kota Coron lewat jalur darat selama 45 menit. Kota kecil yang terletak di pinggir laut ini hanya memiliki satu jalan utama tanpa lampu lalu lintas. Toko kelontong, restoran, dan bar karaoke berjejer di sepanjang bulevar. Sementara sebagian besar penginapan dibangun di atas laut berair tenang dengan mengadopsi arsitektur rumah panggung terapung. Usai survei harga, pilihan saya akhirnya jatuh pada paket island hopping yang ditawarkan Coron Galeri. Biaya per orang hanya PHP650 (Rp130 ribu), sudah termasuk tiket masuk dan makan siang. Jauh lebih murah dibanding menyewa kapal sendiri yang menghabiskan Rp300 ribu, tanpa tiket masuk dan makan siang.
Saya dan lima orang lain berangkat naik banca (kapal nelayan bercadik) tepat jam delapan pagi. Sejauh mata meman-dang yang terlihat hanyalah hamparan laut biru yang ditumbuhi pulau-pulau kecil bertebing batu. Agenda pertama saya adalah mampir di Danau Kayangan yang tersohor sebagai danau terbersih di seantero Filipina. Menjangkaunya sangat menguras keringat. Saya harus mendaki puluhan anak tangga kayu yang mengular di tebing curam.
Namun semua deraan fisik itu ter-bayar lunas ketika saya sampai di atas bukit dan menyaksikan pemandangan teluk yang spektakuler. Reputasi wangi Danau Kayangan terbukti sahih. Danau yang dikelilingi perbukitan ini memiliki permukaan air berwarna biru muda yang begitu jernih sampai-sampai bebatuan kuning di dasarnya terlihat jelas.
Aktivitas berikutnya adalah snorkeling di Twin Peaks Reef dan CYC (dibaca: “si way si”) yang berlokasi di tengah laut. Setelah lelah dikocok gelombang, banca akhirnya sampai di Pantai Atuwayan. Saya langsung mengisi perut di sebuah pondok kayu dengan menu salad rumput laut mentah, ikan tuna bakar, telur asin, dan nasi putih. Agar lebih sedap, saya menam-bahkan sambal saset bekal dari rumah.
Belum puas menikmati keindahan Twin Peaks Reef dan CYC, saya dibawa ke surga lain bernama Twin Lagoon, danau ganda di pinggir laut yang dikelilingi tebing batu gamping. Keduanya terhubung oleh sebuah terowongan bawah air yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang mampu berenang segesit ikan.
Air danau berwarna turkuois dengan suhu yang cukup dingin. Seraya mengapung dalam posisi telentang, saya menikmati pemandangan formasi tebing menjulang dan tetumbuhan hijau.
Eksplorasi dilanjutkan ke Pulau Malcapuya. Sebuah brosur menjuluki pulau ini “Boracay tanpa bangunan”. Boracay adalah pulau di selatan Manila yang digadang-gadang oleh pemerintah setem-pat sebagai pulau tropis tercantik. Dua kali mengunjunginya, dua kali juga hati saya terbuai oleh keindahannya. Jika kini ada pulau yang diklaim sebagai Boracay versi sepi, saya jadi terlecut ingin melihatnya.Tur ke Malcapuya dibanderol hampir Rp200 ribu per orang. Terbilang mahal karena jaraknya lumayan jauh: sekitar dua jam naik banca dari Coron. Namun setelah melihat langsung keanggunan Malcapuya, biaya tur tadi jadi terasa murah. Pasir putih sehalus gula bubuk terhampar sepanjang satu kilometer di pesisir yang minim manusia. Pantainya sangat lebar, sehingga saya bisa bermain dengan leluasa di atas pasir. Permukaan air lautnya seperti cermin yang dicat dengan warna gradasi biru tua ke biru muda. Pesisir ini mengoleksi beberapa pondokan yang disewakan untuk umum. Jika malas berada di dalam ruangan, pengunjung bisa tidur di hammock yang ditambatkan di antara batang-batang pohon.
Daya tarik lain dari Kepulauan Calamian adalah situs-situs wreck diving yang terletak di sekitar Pulau Coron. Setidaknya ada 15 kapal Jepang bekas Perang Dunia II yang bersemayam di dasar lautnya. Portofolio impresif inilah yang menempatkan Coron dalam daftar lokasi scuba diving terbaik di dunia versi majalah-majalah wisata. Meski bukan penggemar wreck diving, saya tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Apalagi paket menyelam di Filipina relatif lebih murah dibanding di Indonesia, yakni hanya Rp590 ribu per orang, sudah ter-masuk biaya penyelaman sebanyak tiga kali, makan siang, jasa pemandu, serta biaya sewa peralatan dan kapal.
Karena sudah lama tidak menyelam, saya mencoba pemanasan di tempat yang mudah di Danau Barracuda. Tak seekor pun ikan yang muncul. Walau begitu, pemandangan di bawah air tetap menakjubkan. Saya melihat dinding batu yang seolah tersusun dari tumpukan ujung pensil raksasa. Rasanya seperti berwisata di Krypton, kampung halaman Superman, di kala banjir. Turun ke kedalaman 14 meter, saya menyaksikan garis biru hori-zontal yang disebut thermocline. Air terlihat berminyak, tapi tidak lengket.
Menukik lebih dalam lagi, tiba-tiba saya merasakan sengatan energi panas. Suhu pada dive comp di tangan menunjukkan angka 38 derajat celsius. Saya kini berada di perbatasan antara air laut dan tawar. Begitu naik ke atas, suhu susut hingga 28 derajat celsius. Anehnya, ikan-ikan kecil justru “berbaris” persis di perbatasan kedua jenis air ini. Belakangan, dive master mengatakan mereka sebenarnya sedang menikmati spa: pinggang ke bawah dipijat air panas, pinggang ke atas dipijat air dingin.
Katam diving di perairan tenang, hari berikutnya saya naik level dengan mencoba wreck diving. Yang pertama kali saya sambangi adalah bangkai Olympia Maru, kapal kargo sepanjang 120 meter milik tentara Jepang yang kini terbaring dengan posisi menyamping. Saya turun sambil berpegangan pada tali pandu. Sisi badan kapal sudah ditumbuhi terumbu karang jenis softcoral.
Lokasi kedua adalah Tangat Wreck yang menyimpan jenazah kapal sepanjang 140 meter. Kapal ini karam dalam posisi telentang, jadi mudah dimasuki langsung dari sisi geladaknya. Saya menemukan dua boiler utama yang rusak terhantam bom, koleksi piring yang pecah berserakan, serta toilet. Kapal ini sangat megah; saya hanya sempat menjelajahi setengah tubuhnya.
Kapal terakhir yang saya satroni adalah East Tangat Gunboat, kapal pemburu kapal selam dengan panjang 35 meter. Ia bersemayam di dasar laut dalam posisi miring. Badannya kini dipenuhi terumbu karang berwarna-warni. Kapal berukuran kecil ini jadi favorit para diver pemula.
Saya mengisi hari terakhir di Coron dengan berendam di Maquinit Hot Spring. Terletak di tepi laut, pemandian air panas ini bisa dicapai dengan menaiki tricycle selama 15 menit. Maquinit menawarkan tiga buah kolam dengan kedalaman air sebatas dada orang dewasa. Menutup malam, saya menikmati makan di Bistro Coron, restoran milik warga Prancis yang menyajikan steak terlezat di Coron.
Ekspedisi saya belum tuntas. Agenda berikutnya adalah menjelajahi Pulau Camiguin (dibaca: “kamigin”). Berhubung menjadi bagian dari Mindanao, wilayah yang dicap dunia sebagai sarang teroris, pulau ini relatif minim wisatawan. Untungnya saya sudah terbiasa dengan isu panas semacam terorisme, jadi cuek saja. Turis asing sebenarnya tidak perlu terlalu cemas. Mindanao adalah salah satu pulau utama yang membentuk Filipina. Luasnya sekitar 94 ribu kilometer persegi atau setara gabungan Jawa Barat dan Jawa Timur. Seperti yang terjadi di Indonesia, meski bom meletus di Jakarta, tidak oto-matis Bandung berstatus siaga satu meski keduanya terletak di pulau yang sama.
Dari Manila, saya terbang ke Cagayan de Oro, kota terbesar ketiga di Filipina, lalu melanjutkan perjalanan naik kapal selama dua jam. Kapal berkapasitas 200 penumpang ini dilengkapi pendingin ruangan dan televisi. Sebelum berangkat, awak kapal memeragakan prosedur keselamatan layaknya kru di pesawat terbang. Uniknya lagi, kapal juga meng-gelar acara doa bersama ala Katolik.
Saya mengelilingi Pulau Camiguin menaiki multicab sewaan dengan tarif Rp300 ribu per hari. Si pemilik mobil, Boying, pria berusia 40-an, bekerja merangkap supir dan pemandu. Tujuan pertama adalah Stations of Cross yang terletak di lereng Gunung Old Volcano. Tradisi Jalan Salib dengan 14 pember-hentian lazim dipraktikkan umat Katolik di tempat ini.Atmosfer spiritual terasa kental di Sunken Cemetery. Sejarah kuburan ini bisa dilacak pada tragedi letusan Gunung Daan di 1871 yang menyapu dan menenggelamkan sejumlah makam. Untuk menandai lokasinya, pada 1982 didirikanlah patung salib besar berwarna putih di tengah lautan. Setiap tahun, penduduk lokal merayakan hari panen di lokasi ini guna menghormati arwah para leluhur. Erupsi Gunung Daan juga menghancurkan Gereja Guiob yang dibangun bangsa Spanyol pada 1697 di Desa Bonbon. Yang tersisa kini hanyalah bangunan tanpa atap dan sebagian tem-bok yang sudah berlumut.
Boying mengarahkan kemudi ke arah hutan di daerah Bura. Saya melihat kolam besar yang di depannya terpancang pelang bertuliskan “Soda Spring”. Inilah kolam berisi air soda. Airnya tidak bersumber dari pabrik minuman, melainkan dari mata air alami. Berenang di sini sangatlah menyegarkan. Rasanya seperti tercebur ke dalam botol Sprite dingin yang dipenuhi gelembung-gelembung udara karbonasi. Karena penasaran, saya coba mencicipi rasanya. Memang benar soda. Ajaib.
Setelah satu jam berenang di kolam gelembung, saya dibawa ke Sto. Niño Cold Spring. Bentuknya berupa kolam renang segi empat berukuran 25 x 40 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Baru saja mencelupkan ujung jari kaki, saya seperti disetrum air yang luar biasa dingin tak ubahnya lelehen salju.
Saya dan Boying kemudian meluncur ke air terjun setinggi 70 meter bernama Katibawasan Fall. Persis di kakinya terda-pat kolam renang yang dibingkai batu kali. Airnya tak kalah dingin dari Sto. Niño Cold Spring. Aneka anggrek dan pakis tumbuh subur di sekitar kolam.
Perjalanan ditutup dengan berendam di Ardent Hot Spring, pemandian air panas bersuhu 40 derajat celsius yang airnya bersumber dari Gunung Hibok-Hibok. Air dialirkan ke beberapa kolam renang yang dibangun bertingkat layaknya sawah terasering. Berbeda dengan Ciater, air di sini tidak mengeluarkan bau menyengat meski mengandung belerang.
Kelar tur lintas kolam, kini tiba saatnya menyelam. Sebuah banca menanti saya persis di depan penginapan. Selang satu jam, rombongan sampai di titik penyela-man Old Volcano. Dinamakan demikian karena letaknya persis di kaki Gunung Old Volcano. Obyek unik di tempat ini adalah pilar-pilar tak beraturan yang terbentuk dari formasi lava bekas letusan gunung. Old Volcano sangat cocok untuk macro diving atau penyelaman melihat makhluk laut yang super kecil. Saya menemukan kepiting orangutan, lobster, dan aneka nudi branch.
Sembari menanti penyelaman berikutnya, saya melepas lelah di White Island, destinasi favorit di Camiguin. Pulau yang diselimuti pasir putih ini tak memiliki tanaman. Karena itulah disebut ”Pulau Putih”. Sebenarnya pulau ini tidaklah kosong sepenuhnya. Saya menemukan payung-payung besar untuk berteduh serta warung yang menjajakan minuman. Orang Filipina kurang lebih sama dengan orang Indonesia: takut hitam. Mereka lebih sering mengadem di bawah payung. Titik penyelaman berada tak jauh dari pantai. Koleksi terumbu karang dan ikan-nya sungguh memukau. Karena hanya menyelam di kedalaman rata-rata 15 meter, saya tetap bisa mengandalkan sinar mentari untuk menerangi perut laut.
Di hari terakhir, saya meluncur ke Pulau Mantigue yang hanya berjarak 30 menit dari San Roque. Pulau seluas empat hektare ini sangat sepi. Agar ikan-ikan dan terumbu karang tetap lestari, lokasi diving dan snorkeling di sini dipagari tali oleh warga. Nelayan dilarang memancing di dalam batas tali dan setiap diver diwajibkan membayar tiket masuk. Usaha pelestarian yang patut dicontoh.
Getting there
Beberapa maskapai yang melayani rute Jakarta-Manila adalah Cebu Pacific Air ($268) dan Philippine Airlines ($366). Cebu Pacific Air juga melayani penerbangan domestik dengan rute Manila – Busuanga ($85) dan Manila – Cagayan de Oro ($78). Kapal feri Paras Sea Cat melayani rute Cagayan de Oro – Camiguin dengan tarif $18. Semua harga pp di Juli.When to go
Meski layak dikunjungi sepanjang tahun, Filipina paling menarik dikunjungi di periode musim panas yang berlangsung dari April sampai Mei. Kedua bulan tersebut tergolong peak season, saat kalender dipenuhi hari raya keagamaan dan masa liburan sekolah. Seiring melonjaknya tingkat reservasi penginapan dan penerbangan, harga-harga lazimnya akan melambung. Bila Anda ingin menyelam, jarak pandang terbaik adalah dari November sampai Mei.Where to stay
Berdiri di atas air laut dan dilengkapi dive center, Sea Dive Resort adalah resor yang menarik ditinggali saat Anda berada di Coron [Coron, Palawan, T.63 918 400 0448, www.seadiveresort.com, mulai dari Rp180.000 per malam]. Sementara di Camiguin, Anda bisa mencoba Secret Cove Beach Resort yang terletak persis di seberang White Island. Pemiliknya adalah warga Kanada yang pandai memasak [Yumbing, Mambajao, Camiguin,
T.63 88 387 9084, www.secretcovecamiguin.com, mulai dari Rp240.000].What to do
Kepulauan Calamian di barat daya Manila menawarkan banyak titik diving dan snorkeling, contohnya Twin Peaks Reef, CYC, dan Twin Lagoon, ditambah wreck diving di perairan sekitar Pulau Coron. Sementara di Pulau Camiguin, Anda bisa menikmati kolam-kolam pemandian berisi air dari mata air alami. Salah satu yang unik adalah “Soda Spring” yang menawarkan kolam berisi air soda. Sebelum memulai petualangan, tukarkanlah uang dolar Amerika ke peso Filipina di Manila, sebab nilai tukar di Coron dan Camiguin jauh di bawah standar. Lebih hemat membawa uang tunai, sebab pembayaran dengan kartu kredit akan dikenakan biaya tambahan sebesar lima persen dari total nilai transaksi.

Dalam tempo sejam, pesawat mendarat di Bandara Busuanga. Saya menerus-kan perjalanan ke Kota Coron lewat jalur darat selama 45 menit. Kota kecil yang terletak di pinggir laut ini hanya memiliki satu jalan utama tanpa lampu lalu lintas. Toko kelontong, restoran, dan bar karaoke berjejer di sepanjang bulevar. Sementara sebagian besar penginapan dibangun di atas laut berair tenang dengan mengadopsi arsitektur rumah panggung terapung. Usai survei harga, pilihan saya akhirnya jatuh pada paket island hopping yang ditawarkan Coron Galeri. Biaya per orang hanya PHP650 (Rp130 ribu), sudah termasuk tiket masuk dan makan siang. Jauh lebih murah dibanding menyewa kapal sendiri yang menghabiskan Rp300 ribu, tanpa tiket masuk dan makan siang.
Air danau berwarna turkuois dengan suhu yang cukup dingin. Seraya mengapung dalam posisi telentang, saya menikmati pemandangan formasi tebing menjulang dan tetumbuhan hijau.
Daya tarik lain dari Kepulauan Calamian adalah situs-situs wreck diving yang terletak di sekitar Pulau Coron. Setidaknya ada 15 kapal Jepang bekas Perang Dunia II yang bersemayam di dasar lautnya. Portofolio impresif inilah yang menempatkan Coron dalam daftar lokasi scuba diving terbaik di dunia versi majalah-majalah wisata. Meski bukan penggemar wreck diving, saya tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Apalagi paket menyelam di Filipina relatif lebih murah dibanding di Indonesia, yakni hanya Rp590 ribu per orang, sudah ter-masuk biaya penyelaman sebanyak tiga kali, makan siang, jasa pemandu, serta biaya sewa peralatan dan kapal.
Saya dan Boying kemudian meluncur ke air terjun setinggi 70 meter bernama Katibawasan Fall. Persis di kakinya terda-pat kolam renang yang dibingkai batu kali. Airnya tak kalah dingin dari Sto. Niño Cold Spring. Aneka anggrek dan pakis tumbuh subur di sekitar kolam.
Facebook
Twitter
Myspace
Linkedin
del.icio.us
Blogger
Rain Concert





