Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

Riza Marlon

Fotografer wildlife pertama Indonesia ini berbicara tentang kamera Fujica MPX 150, alam Indonesia Timur, dan pengalaman memotret burung cenderawasih.

Awal mula menyukai fotografi: Sewaktu masih SMP. Terinspirasi koleksi foto-foto portrait ala majalah Time, saya kemudian belajar foto secara autodidak. Kamera yang pertama kali digunakan untuk latihan adalah Fujica MPX 150 milik sepupu.

Alasan menekuni fotografi alam liar: Sejak kecil sudah mencintai binatang. Lalu, saat berkuliah di jurusan biologi, saya menyadari buku-buku tentang hewan kebanyakan dibuat oleh orang asing, termasuk buku pengetahuan tentang spesies di Indonesia. Butuh peran orang lokal untuk mendokumentasikan spesies di Nusantara.

Persyaratan menjadi fotografer alam liar: Tidak harus lulusan jurusan biologi. Paling tidak harus memiliki fisik kuat, kesenangan dan kecintaan terhadap binatang, kesabaran tinggi, serta yang paling penting, mesti “gila”—gila jalan, gila memotret, dan berani mencoba apa pun. Kesabaran sangat diperlukan. Untuk menangkap momen perilaku binatang, kadang kita harus menginap berhari-hari di alam terbuka.

Ide di balik Living Treasures of Indonesia: Buku ini berisi pengalaman dan karya saya selama 20 tahun. Sembilan puluh persen obyek dan spesimen di dalamnya diambil di alam liar Indonesia, sementara 10 persennya di kebun binatang karena sudah punah. Belum pernah ada yang menggarap foto tentang alam liar dan satwa Indonesia. Saya ambil kesempatan ini untuk menampilkan flora dan fauna kita yang khas dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Harapan pada buku: Selama ini buku pelajaran mengenai binatang berasal dari luar. Saya ingin mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak, untuk mencintai satwa liar. Lewat buku, kita bisa merekam sejarah serta membantu menjaga kelestarian alam dan isinya yang saat ini terancam oleh tambang dan kelapa sawit.

Pengalaman paling berkesan: Memotret burung cenderawasih di Papua. Saya mendapat tugas dari organisasi Bird Indonesia untuk menangkap keindahannya. Namun, untuk menjangkau lokasi, yakni kawasan Pegunungan Arfak, saya harus mendaki dan menembus jalur darat selama  kurang lebih 20 jam. Perjalanan yang sangat melelahkan, tapi hasilnya luar biasa.

Tantangan di bidang fotografi alam liar: Bidang ini identik dengan biaya mahal. Sebelum terjun ke lapangan, fotografer perlu melakukan riset tentang musim kemunculan spesies yang diburu dan akses menuju lokasi, mencari pemandu lokal yang andal, mempelajari perilaku binatang, serta merencanakan setelan platform atau foto untuk mendapatkan sudut yang baik.

Kawasan wildlife impian: Saya ingin menjelajahi Indonesia Timur, terutama pulau-pulau kecilnya. Di kawasan timur banyak spesies yang khas dan tidak banyak ditemukan di tempat lain. Memotret obyek yang tidak dimiliki orang lain adalah sebuah achievement tersendiri bagi saya.

Fotografer idola: Frans Lanting, fotografer asal Belanda. Banyak karyanya dibuat dengan sudut pandang yang berbeda dari fotografer lain. Sangat khas.

 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner