Clicky

jalanjalan - travel in style

jalanjalan


Receive HTML?

The Grand Valley

Indeks Artikel
The Grand Valley
Lembah Baliem
Syokosimo
Semua Halaman

Bertengger di ketinggian 1.500 meter dalam kawalan puncak-puncak agung Jayawijaya, Lembah Baliem adalah destinasi trekking yang tak cuma menguji kekuatan fisik, namun juga mengasah kepekaan jiwa kita dalam menyerap misteri alam Papua. Fransiska Anggraini menyibak kabut yang membalut pagi, lalu berjalan mengarungi lembah yang didiami warga suku pedalaman ini.

 

Papua bagaikan negeri dongeng di buku-buku karangan Grimm Bersaudara yang sering saya baca ketika kanak-kanak dulu:sebuah tempat indah yang diselimuti hutan lebat, ditinggali berbagai suku pedalaman, serta ditumbuhi flora dan fauna yang berbentuk janggal seolah-olah mereka adalah produk mutasi biologis.

Banyak orang pernah mendengar keindahan alam Papua, tapi tak banyak yang menyambanginya. Bumi Cenderawasih bagaikan monster Nessy yang melegenda di sebuah danau di Skotlandia—banyak yang menggunjingkannya, mengaku ingin melihatnya,namun sangat sedikit yang benar-benar berani membuktikan keberadaannya. Biaya ke sana memang tidak murah; lebih mahal dari anggaran berwisata ke Singapura.

Setelah sekian lama mengumpulkan uang, akhirnya saya memberanikan diri membuktikan keberadaan si ”monster Nessy”. Agenda saya adalah melakukan trekking di Lembah Baliem (dijuluki Grand Valley oleh dunia), salah satu atraksi wisata terkenal di Papua. Sejumlah teman menganggap rencana ini konyol, sebab saya berkunjung di Januari, saat curah hujan sedang tinggi-tingginya. Rupanya banyak yang tidak tahu siklus musim relatif tak berlaku di Lembah Baliem. Berada di Kabupaten Jayawijaya, teronggok di ketinggian 1.500-an meter di atas permukaan laut, lembah ini bisa diguyur air dari langit kapan saja. Itu sebabnya jas hujan dan pembungkus ransel menjadi benda yang wajib dibawa.
Ada banyak paket trekking yang ditawarkan melalui internet. Tur operator biasanya akan membawa kita menyapa para penghuni lembah, yakni warga Suku Dani, Lani dan Yali. Sayangnya, harga mereka cukup menguras kocek. Para operator, baik di Jayapura maupun Wamena, sering berkilah harga paket, biarpun hanya beberapa hari, dibanderol mencapai belasan juta rupiah per kepala karena biaya hidup di Wamena sangat tinggi, terutama disebabkan hampir semua barang kebutuhan harus dipasok lewat udara. Setelah hampir frustrasi memelototi barisan angka nol di layar komputer, akhirnya saya memutuskan untuk mencari sendiri jasa pemandu langsung di lokasi.

Saya pun berangkat ke Wamena berbekal satu ransel berisi makanan kaleng dan mi instan. Saya terbang dari Jayapura menggunakan pesawat kecil berkapasitas 40 penumpang. Di bandara terlihat banyak calon penumpang yang membawa bertumpuktumpuk barang. Isinya mulai dari televisi, kasur, kompor, hingga bahan makanan. Satu orang bisa membawa bagasi bertroli-troli, hingga menimbulkan antrean panjang di depan loket. Semua orang bersikeras menuntut barang-barangnya diangkut, padahal pesawat hanya sanggup menampung 15 kilogram bagasi per orang. Berhubung wilayahnya ditumbuhi banyak bukit dan gunung, saat cuaca buruk, penerbangan menuju Wamena bisa dibatalkan hingga waktu yang tidak jelas.

Januari termasuk bulan sepi turis di Wamena. Itu mungkin sebabnya, begitu mendarat, saya langsung diserbu gerombolan pemuda yang menawarkan jasa pemandu ke Lembah Baliem. Bagaikan selebriti yang sedang dikerumuni wartawan, saya dihujani bertubi-tubi pertanyaan, mulai dari tempat saya menginap, rencana di Wamena, durasi liburan, dan masih banyak lagi. Sebelum berangkat, saya sempat membaca dan mendengar peringatan tentang pemandu gadungan yanghanya mengincar uang para wisatawan tanpa memberikan servis yang sepadan. Takut terjebak, saya memilih tidak mengacuhkan tawaran mereka.

Namun ada satu orang yang pantang menyerah. Ia membuntuti saya hingga ke hotel. Agak was-was, saya mempercepat langkah, lalu segera check-in dan masuk kamar. Selang beberapa jam, saya ke lobi dan mendapati ternyata ia masih menunggu. Saya kembali ke kamar dan menelepon resepsionis guna menanyakan identitas si penguntit. Orang tadi biasa disapa dengan panggilan Miki, seorang pemuda lokal yang sering memandu tamu hotel ke Lembah Baliem. Barulah saya berani mengajaknya bicara. Usai negosiasi yang cukup alot, saya akhirnya berhasil mendapatkan harga yang masuk akal untuk trekking selama empat hari tiga malam.

Sore harinya, Miki mengajak saya ke Pasar Besar Wamena guna berbelanja kebutuhan trekking. Setelah mengintip isi ransel saya yang hanya berisi makanan penuh monosodium glutamat (MSG), dia berinisiatif menambahkan buah dan sayur-mayur. “Untuk menambah gizi selama trekking,” begitu katanya. Sekilas, Pasar Wamena mirip pasar tradisional Indonesia umumnya—becek, kotor, dan riuh-rendah. Yang membuatnya berbeda adalah orang-orangnya. Saya seolah sedang tidak berada di bumi Nusantara, melainkan di Jamaika. Orang-orang yang berkulit kelam ini mengenakan pakaian bercorak meriah, penuh warna terang, ditambah noken (tas rajut Suku Dani yang dijinjing di kepala) yang juga memiliki warna beragam. Membawa noken saat berbelanja merupakan suatu keharusan, sebab para pedagang tidak menyediakan kantong plastik.

Sulit menahan tangan untuk tidak membidikkan kamera ke arah wajah eksotis para wanita Suku Dani. Setiap kali mereka sadar kamera sedang diarahkan ke wajah atau barang dagangan, mereka sontak berucap sangar: “Bayar!” Saya berlagak tuli, kemudian sambil tersenyum berlalu dari hadapan mereka.



 
jalanjalan - travel in style




Subscribe NOW!
e-Magazine
Banner
Banner